Dia..
Tak tergapai seperti senja kemerahan, menyejukkan dan membawa kegelapan..
Nyaman.. tapi hampa bagai hujan tak berpelangi..
Hening.. Isak tangis merelakan segenap hati terhimpit duka..
Lalu dengan apa aku suarakan??
Mawar merah hitam pekat saksi nya...
Tak tergapai seperti senja kemerahan, menyejukkan dan membawa kegelapan..
Nyaman.. tapi hampa bagai hujan tak berpelangi..
Hening.. Isak tangis merelakan segenap hati terhimpit duka..
Lalu dengan apa aku suarakan??
Mawar merah hitam pekat saksi nya...
Buku harian itu memang berguna. Setidaknya
ia mampu menolong Ann meluapkan segala kekesalannya. Setangkai mawar merah tepat di sebelah
berdekatan dengan rangkaian tulisan yang barusan ditulis. Itu pemberian Muda di jumat malam lalu, khusus
untuk dirinya.
“Berapaan mawar nya , mas?”
“Oh, ya.. Lima ribu, mas. Ini mawarnya.” Penjual mawar memberikan dagangan nya dengan segera.
“Oh, ya.. Lima ribu, mas. Ini mawarnya.” Penjual mawar memberikan dagangan nya dengan segera.
Lampu merah, perempatan Toko Buku Diagraha,
batik kebanggaan, dan setangkai mawar merah pun ikut tersenyum menyaksikan ulah
kedua nya. Entah apa yang ada dipikiran Muda,
juga Ann saat itu. Mungkin saja Ann
berkata itu norak. Tapi Muda mengacuhkannya, Ann pun tak
menampik dalam hatinya bernuansa sama dengan sang mawar, indah!
Hey, Ann! Tidakkah kau sadar dengan siapa
engkau bicara? Seenaknya berkata bodoh
untuk lelaki nyaris sempurna seperti Muda! Ann tidak bergeming, bukan harta,
derajat, pangkat yang ia nilai. Kebodohan
Muda mendekati seorang Annie Perempuan bermasa depan suram, itu yang sangat
disayangkan. Pintar-pintar tapi bodoh,
punya otak kok ditaruh di dengkul! Itu sudah... Cuma itu yang bisa
terucap. Untuk mengangkat topi, angkat
kacamata dan helm pun sudah pernah
dilakukan. Bagi Ann tetap saja, Muda goblok!
“Ini soal rasa, bung!”
“Iya rasa basi, rasa pahit,
apek kayak ketiak mu!” seorang teman berujar kepada Muda. Mungkin dia juga sudah bosan menasehati atau
barangkali memang sengaja membiarkan sahabat nya mencari jati diri.
Mata yang begitu damai, pelukan penuh
ketenangan, genggaman erat seolah tak mungkin terpisah.. semua ibarat benang emas
yang siap ditenun menjadi sebuah kain songket nan elok. Sayang itu pasti. Ragu itu segalanya. Sayang karena tenunan yang dibuat itu sulit,
ragu akan ada dimana nantinya kain itu dimiliki? Jatuh di kepemilikan Nona Mary kah? Ratna
si gadis desa yang cantik, Ayu yang sifatnya mirip ‘Dewi Sri’ atau bahkan jatuh
ke tangan wanita tunacinta seperti Ann!?!
Alaaah, Ngomong nya kok ngalor ngidul, kembali ke persoalan
awal. Ann butuh Muda! Mawar bilang Muda itu tidak sedang
bercanda. Meski Muda bukan Abi, tapi
Muda cerewet seperti Abi. Pembimbing
sejati, baik hati, manja sekali. Mawar pun
tak lupa berbisik pada buku harian, supaya paksa Ann segera tuliskan apa yang
dirasakan pada Muda. Memang kaku, Ann
miskin kosakata. Mungkin karena
kebanyakan makan kebab beef burger campur sayur lodeh petai di warung Uni bikin
Ann jadi bisu. Hmm.. tapi kemungkinan itu sedikit luntur kebenaran nya. Nyata nya Ann hilang gairah hidup karena
Abi. Cuma Tanah merah yang ditinggalkan
6 bulan lalu sebagai jejak akhir kecintaannya pada dunia, keluarga, teman-teman
dan juga kekasihnya yaitu Ann.
Ann seperti ingin menutup mata, telinga, dan
hati nya tentang Muda. Nona Mary
memang sudah kepunyaan Tuan Muda, begitu juga sebaliknya. Inilah titik kebodohan terbesar Ann begitu
menyadari situasi sesungguhnya. Tuhan! Inikah
karma yang telah Engkau tujukan atas kekhilafan dahulu ketika bersama Abi? Kenyataan
yang terjadi bahwa Ann kini seperti diguncang ombak tsunami.
PisauNya
kado milikku, atas air mata mataram sebelah nya gadjah
Jika tak
hening jua segala perkara
Jauhi
tajamnya,
Sulap saja
spion kaca serupa kemerlap bintang
UntukNya tirakat
tertatih lirih
Hadir penghuni
sunyi, ujar keluar manis sudah gelap kini
Bumi
manusia tenggelamkan ambisi
Iris semua
naluri, pengabdian nyaris terkikis
Untuknya
kejora fajar
Semoga
selamanya pagi terjelang.
Dan kejora
tak berlalu dari fajar
Angin
setia menemani meski ia tak nyata
Selalu
bisikkan yang terbaik kepada ombak
Kejora ada
hanya untuk fajar, ombak itu jodohnya pantai..
Yang
tertiup hanyalah penghubung nya...
Apalagi lorong
semut
Gak ada
kaitan nya.....
Penggalan puisi dirangkai Ann untuk Muda.
Tiga gelas kopi mewakili perasaan Ann.
Satu jam bersama kepulan asap tembakau temani kesedihan nya. Sesak!
Tunaikanlah
janji, abaikanlah diri ini..
Coba
jernihkan hati, kembalilah untuk Mary..
Baru kali
ini Ann merasa lucu mengetahui ada manusia mengaku jahat. Sehabis dia tega-tegaan, malah mengakui
kejahatannya. Rumpiiiiik! Pasti itu
basa-basi, selalu begitu dan sudah tak mengherankan.
“Masihkah boleh berharap
bersama mu?, Aku sayang kamu, Ajari aku gimana cara mencintai mu!, Mesti gimana meyakinkan kalau semua ini
bukanlah permainan? Masih kurang kah porsi sayang ku? Kasih tau dong bagaimana
cara menyayangi mu,, ? Please...”
Aww!! Risih pikiran Ann jadinya. Sesungguhnya Ann membenci hal-hal yang
berlebihan seperti itu. Gombal lebay nya
itu kayak gembel, norak ! Ann anggap begitu karena merasa tak pantas
semua ucapan yang demikian ditujukan untuk dirinya. Masih ada Nona Mary!
Malah terasa meriang tubuh Ann kalau ingat mesej nya Nona Mary dan Tuan Muda di
masa-masa istimewa mereka. Kacau! Hidup Ann benar-benar kacau setelah pertemuan
nya dengan Tuan Muda. Kalau slalu diingat
kisah tragis nya, Ann bisa gila. Paling tidak
ia merasa seperti zombie yang hidup tapi tak berguna dan jelas tak ada harapan
di masa depan. Namun kalau dilihat lebih
teliti lagi, hadir nya Muda memberi warna baru di kehidupan Ann. Warna-warni seperti bunglon saat mimikri. Amazing gitu deh kalau kata bule-bule!
Bisa jadi Tuhan mempertemukan jodoh untuk Ann lewat jalan yang rumit seperti ini. Tuan Muda putus dengan nona Mary,, Nona Mary kembali pada mantan pacarnya dan Tuan Muda menjadi milik Ann selamanya. (sambil garuk-garuk kepala) Apa ada peluang dan kemungkinan kah? Entah lah... terkadang meskipun sudah bersusah payah menganalisa ciri keseriusan seorang lelaki itu tetap saja sulit. Lebih keseringan meleset tebakan nya alias berujung kecewa lantaran tertipu dan tersakiti. Meskipun dia telah menunjukkan itikad baik, kalau sudah dalam situasi terjepit terpaksa menyakiti ya tetap saja diteruskan aktivitas “Menyakiti” nya. Walaupun dalam hati kecil nya berkata “gak tega”, tapi kalau sudah Kun Fayakun tetap saja terjadi!!!
Jadi ada benarnya juga kata-kata “Jangan pernah percaya sama politisi! Maklum lah itu kan cuma orasi untuk mempengaruhi orang lain. Kalau gak pake orasi, trus kepentingan nya mau dibawa kemana?”. O owh.. Ann bergumam sendiri di depan kaca. Sekalian berkaca membandingan wajah nya dengan wajah mulus Nona Mary. Hahaha... kerjaan gak penting sekaliiii...
“logika cinta dengan logika politik berbeda dong, meski strategi nya sama. Kamu jangan berlebihan ngerespon nya!” Muda interupsi. Ann tertawa menanggapinya. Sebuah kalimat tajam prinsip hidup Muda nyaris negatif intepretasi nya di otak Ann. Meski ia tahu ada benar nya juga kata-kata Loving woman, make politic. Tapi ada beberapa hal yang masih rancu diterima oleh wanita pengamat seperti Ann. Ia harus menjelaskan nya. Kapan itu? Mungkin lusa, besok, atau bahkan sejam lagi.
........................ To be continued .......................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar