Assalamualaikum, Wahai Wanita makhluk terindah ciptaan Allah SWT..
Sesungguhnya tiadalah berarti keilmuan yang tinggi tanpa kesabaran
yang tinggi pula dalam mengarungi kehidupan ini. Saya bukanlah seorang ustadzah atau wanita
yang terlahir dalam lingkungan religi yang paling bagus. Namun saya berusaha menuliskan pengalaman kejadian
disekitar dengan menjadikan sebuah teks bacaan untuk khalayak ramai khususnya
para perempuan. Mungkin saja saat ini
sedang bersedih atau kalaupun sedang berbahagia, semoga kisah yang dipaparkan
bisa menjadi sebuah renungan bagaimana mempertahankan kebahagiaan dalam hati.
Mari kita simak pada
tulisan pertama..
Sebuah Pertemuan
Jika ada seseorang perempuan di dunia ini yang bisa menjamin dirinya
tidak akan pernah bertemu dengan laki-laki (begitu sebaliknya) adalah suatu hal
yang sangat keliru. Meski pernah sakit
hati sebelumnya dan telah berjanji akan membenci laki-laki manapun, tetap saja
cobaan itu kan terus datang. Ntah, apa
yang salah dari laki-laki tapi tidak dengan wanita satu ini. Sebut saja dia Fha. Wanita tamatan S1 Hukum itu pernah tak
menyadari kalau ternyata dirinya telah ternodai. Mungkin saat itu ia terlalu yakin akan
komitmen yang pernah di sepakati bersama kekasihnya tanpa mengingkari pula adanya
cinta yang sangat besar mendekap diantara mereka. Hingga pada akhirnya lepas lah tameng
perlindungan yang selama ini ia jaga ditangan lelaki yang sangat dicintainya
itu.
Lepas bukan berarti bahagia justru berganti bencana. Bayangkan bagaimana perasaan Fha yang selama
ini rela melepaskan kekasihnya itu belajar diluar negeri dalam kurun waktu yang
dirasa cukup lama kini telah berubah. Munculnya
konflik dan ancaman akan dibeberkan semua kejelekan Fha selama berpacaran dan
menyebarkan foto-foto tak pantas atas kekecewaan penghianatan cinta sebagai
tuduhan untuk Fha. Masyallah, 3 tahun cukuplah menyiksa batin dan pikirannya, kenapa
harus ditambah lagi dengan cobaan ini?
“Akankah lelaki ini benar-benar menghargai kesetiaanku?” Fha
membathin. Serahkan semuanya pada
Allah. Begitu kata kakak dan seluruh
keluarga menyuport Fha. Cincin
pertunangan masih erat melingkar dijari manis Fha dan digenggam erat olehnya.
Bicarakan
Semuanya, Aku ikhlas..
“Pekerjaan yang didapat ini sesungguhnya memang karunia dari Allah
SWT untuk Fha, mbak. Tapi itupun tak
luput dari bantuannya Mas Bayu juga..”. Fha mengutarakan kegundahannya kepada
kakak sulungnya. Sebelum ditinggal
kekasihnya studi diluar negeri, memang Fha mendapatkan pekerjaan menjadi
seorang Pegawai Negeri Sipil berkat bantuan dari Bayu (Nama kekasih Fha).
“Tapi kata-katanya itu sungguh keterlaluan, Fha! Mbak gak nyangka segitu teganya dia ancam
kamu! Apa gak bisa dibicarakan baik-baik dengan cara kekeluargaan??” Mendengar
perkataan itu Fha bungkam. Ia memahami
watak kakaknya ketika marah, tapi ia pula memahami ini hanyalah sebuah
kesalahpahaman. Mas Bayu salah paham
tentang hubungannya dengan Aa Hanif. Sebagai
mantan pacar, Aa Hanif memang sangat
baik dan masih menjaga hubungan baik dengan keluarga Fha meskipun hubungan itu
telah lama berakhir. Memang Aa Hanif
terkadang masih sering menanyakan hati yang dimilik Fha terhadapnya, tapi tetap
saja bayangan Mas Bayu melekat diingatan.
“Gak, Aa.. Fha tetap mensyukuri kekasih yang telah Allah beri untuk
Fha dengan menerima segala kekurangan dan kelebihan dari Mas Bayu. Fha mencintai Mas Bayu.”
“Tapi bagaimana dengan fitnah yang telah ia tudingkan kepadamu? Asal kamu tau, Aa siap menerima ade kembali
jika memang dia tega melepaskanmu, de.”
“Tenang dulu Aa.. Doakan saja semoga ini cepat selesai dan tidak
menjadi masalah yang pelik untuk Fha hadapi”.
Fha begitu tegar mempertahankan kesetiaannya.
Sebuah SMS ia layangkan ke nomor ponsel milik Bayu.
Assalamualaikum, Mas Bayu tercinta..
Sungguh malam-malam yang aku lalui tidaklah sempurna tanpa
mengetahui bagaimana kabarmu disana. Fha
sangat mencintai Mas Bayu, berharap Mas jangan pernah tinggalin Fha. Kalau ada masalah yang kurang berkenan,
tolong bicarakan semuanya sama Fha ya, Mas.
Insyallah Fha ikhlas.. Cepat selesaikan Studinya, mas. Fha disini tetap setia menunggu kedatangan Mas
Bayu. Peluk Cium kangen selalu untuk
Mas. Wassalam.
Jika Cerita itu Benar, Mungkin Hanyalah Sebuah Kekhilafan dan Fha
Tetap Ikhlas Memaafkan Mas Bayu..
Sesungguhnya permasalahan ini telah lama disadari walaupun Mas Bayu
menutup rapat, tidak pernah membahas persoalan itu kepada Fha. Tak bisa pula ia menyalahkan wanita yang telah
terlanjur hadir dihati kekasih yang sangat dicintainya. Jika cerita itu benar, biarlah. Berarti memang sudah menjadi kekhilafan Mas
Bayu saat merasa jauh dari dirinya dan butuh tempat berbagi. Bagaimana mungkin kuatnya seorang Fha bertahun-tahun
mempertahankan keutuhan hubungan pertunangannya dengan Bayu, saban hari
diacuhkan baik dari SMS, Telpon, Maupun Email.
“Astaghfirullohaladzhim, Yaa Allah.. Cobaan apalagi ini? Kuatkan Fha
, Yaa Allah.. Tunjukkan yang terbaik”.
Fha menitikkan air mata kesedihannya.
Sekali lagi ia pasrah terhadap keputusan Allah. Berbulan-bulan Fha bersabar, Tahajud dan Istikharah mengharap Ilahi menjawab semua permohonannya. Seperti mendapat sebuah pencerah, Fha
akhirnya bisa mencoba menutup auratnya dengan memakai jilbab.
Subhanallah, Sungguh wanita ini memang Cantik!
Waktu pun terus bergulir dan dijalani Fha dengan penuh
keikhlasan. Mungkin Kuasa Allah yang
telah membukakan mata hati dan pikiran Mas Bayu yang ternyata selama ini masih
memperhatikan perkembangan kehidupannya.
Berkat kesabaran dan keyakinan akan berubahnya sikap Mas Bayu kini telah
membuahkan hasil. Mas Bayu telah meminta
maaf atas kesalahpahamannya dan bertekad akan menunaikan janjinya untuk
menikahi gadis yang sejak dulu ia cintai, yaitu Fha. Saat Mas Bayu pulang ke tanah air meski hanya
untuk suatu penelitian studinya, waktu yang singkat itu tak dibuang
percuma. Lalu dilamarlah gadis yang
bernama Raudhatul Fhauziah itu dalam pertalian suci untuk dijadikan sebagai isteri,
pendamping hidupnya.
Subhanallah, begitu tegarnya wanita
seperti Fha. Lalu munculah pertanyaan
seperti, apa kesalahan pertama itu selamanya menuai hukuman berkepanjangan
seperti yang demikian terjadi?
Jawabannya
adalah sepanjang kehidupanmu kesalahan itu akan terus ada dan semuanya dapat
diatasi dengan keimananmu yang berbuah kesabaran penuh rasa ikhlas. Setiap manusia pasti ada salah dan
khilaf. Namun yang perlu digaris bawahi
adalah mensyukuri apa yang telah dimiliki dan menjaganya dengan sebaik-baik
kehormatan adalah hal yang patut dijadikan perenungan.
Tidak mudah bagi seorang wanita menyerahkan seluruh yang ia miliki
tanpa ada komitmen pada mulanya. Tapi sebaiknya
pula jangan dijadikan sebuah panutan tentang hubungan pra nikah meskipun telah
berkomitmen seperti adanya pertunangan. Mendengarkan,
melihat, dan merasakan itu memang perlu, akan tetapi patutlah kita dapat
menjaga hati dan lisan kita bagaimana semestinya bertingkah yang menyenangkan
bagi pasangan kita.
Untuk mereka yang sudah terlanjur larut dalam kekhilafan. Bertaubatlah.
Allah tak pernah menutup pintu maaf apabila bersungguh-sungguh kembali
kejalan yang benar. Sesungguhnya wanita
itu mulia dan baik hatinya, sama dengan laki-laki yang penuh dengan kasih
sayang. Alangkah baiknya setiap
kesalahan yang pernah terjadi diungkapkan dan dibicarakan baik-baik kepada
pasangan kita. Dikehidupan yang tidak
sempurna ini cobalah dijalani dengan cara yang sempurna. Karena kita tidak pernah mengetahui bagaimana
kehidupan esok, Sudahkah kita meminta
maaf atas kekhilafan kecil maupun besar kepada pasangan kita? Wallahualam.
-Erliza
furi-
Karena
Sabar itu tidak ada batasannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar