Apa yang Anda pikirkan tentang blog ini?

Selasa, 28 Februari 2012



C
atatan Cinta Seorang Mualaf
Pesan seorang sahabat : “Semoga Cerita ini bisa menjadi inspirasi semua wanita untuk tetap kuat dan tidak merasa sendiri. Makasih.”

Saat Cinta Menemukanmu....

Saya bertanya , Di manakah cinta menemukanmu?

“Saya kenal dengan suami saya secara tidak sengaja, mbak.  Waktu itu saya sedang berada di depan gereja selesai misa.  Suami berdiri tidak jauh, ternyata ia sedang menunggu temannya yang ikut kebaktian hari sabtu .  kebetulan gereja dengan masjid dekat, hanya saling berseberangan.  Waktu itu saya masih beragama katolik.”  Ujar seorang yang tenyata memiliki nama Lisa.

“Sejak awal kesadaran adanya konsekuensi dari perbedaan agama, bukan tidak disadari.  Tetapi pertemuan pertama itu menumbuhkan rasa sayang yang ajaib.  Serta merta, begitu tiba-tiba”.

Saya ingat penah bertanya kepadamu, apakah yang menarik dari sosok lelaki muslim yang ditemui satu siang di depan gereja itu?  Ada cinta jawabmu.

“Yang menarik hati saya pada waktu itu rasa sayang, sikapnya yang lemah lembut dalam berbicara, tutur kata yang sangat sopan, sangat ngemong, dan perhatian yang saya dapatkan darinya, ekspresi yang tidak saya dapatkan dari Papa.  Bukan karena Papa tidak sayang, tetapi karena Papa selalu sibuk dengan pekerjaannya. Bisa dibilang Papa sangat gila kerja. Nyaris tidak ada waktu buat keluarga

Maklum, Mbak. Dalam keluarga kami jarang ada komunikasi, seperti kebanyakan orang keturunan. Papa dan Mama sayang tetapi selalu bersifat otoriter dan jarang sekali mengajar anaknya bicara atau hanya sekedar bercanda.
Saya sangat membutuhkannya, Mbak.  Begitu membutuhkan sampai saya takut akan kehilangannya.”

Hmm.. Bayangkan kontrasnya dengan sosok Papa, telah membuatmu merajut harapan terhadap laki-laki itu.  Sikap perhatian, kasih sayang dan kelemahlembutannya menimbulkan perasaan nyaman yang membuatmu merasa butuh berada disisinya.  Hanya tiga bulan, enam kali pertemuan.. bulat sudah keputusanmu untuk menikah dengan laki-laki yang sifat-sifat baiknya telah memenangkan hatimu.  Hari-hari setelah itu pun penuh dengan kemesraan yang memabukkan.  Sesuatu yang kau kira tidak akan pernah berakhir....

Usia Pernikahan Mempengaruhi Kemesraan

Saya tanya kembali, benarkah usia pernikahan mempengaruhi kemesraan?

“Usia pernikahan memang mempengaruhi kemesraan.  Sebab apa yang saya alami sekarang setelah sembilan tahun menikah, begitu jauh dbandingkan tahun-tahun pertama menikah.
Satu sampai tiga tahun pernikahan, kami hidup dengan tenang walaupun hanya pas-pasan.  Meski saat itu kami hanya makan nasi dengan garam karena pada saat awal menikah suami baru lulus dan langsung ditempatkan di daerah yang sangat terpencil.  Uang gaji pun dirapel sampai enam bulan.  Tapi untunglah, Mbak, saya bukan anak yang manja apapun keadaan suami saat itu saya terima ikhlas.  Yang terpenting suami mencintai dan penuh kasih sayang”.

Lalu apa yang terjadi setelah itu?  Bagaimana bisa suami yang dulu mati-matian berjuang mendapatkan cintamu, bahkan berhasil meyakinkanmu untuk berpindah keyakinan...  ini bukan perkara mudah, tiba-tiba menjelma sosok asing yang dingin dan tanpa kasih? 

Padahal upaya keras dan semua pengorbanan yang telah dilakukan, agar Mama Papa merestui pernikahan kalian.  Betapa sakit menghadapi pendar kecewa di mata Papa karena anaknya memutuskan meninggalkan kepercayaan yang dianutnya hingga lebih dari dua puluh tahun ini.  Lalu airmata yang tumpah saat bersimpuh dikaki mama dan butiran bening yang terasa saat Mama memelukmu.  Keduanya tak mampu berbuat apa-apa, kalah oleh cinta kasih yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh oleh putri mereka.

“Memang saya akhirnya masuk Islam, Mbak.  Agar selangkah dengan suami, sebab suami tidak ingin dalam satu kapal yang ia nakhodai ada dua nahkoda.  Ia tidak mau setelah pernikahan nanti ada dua agama dalam satu rumah tangga.

Nah itulah, Mbak yang membuat saya yakin dan akhirnya bersedia masuik Islam, pada 26 Oktober.  Sehari setelahnya saya dikhitan, dan pada 28 oktober 1998 saya pun menikah.”

Kapan Ujian Itu Dimulai?

“Di tahun keempat suami saya dipindahtugaskan ke daerah dan menjadi orang penting di pemerintahan daerah... saya tidak mengerti kenapa tiba-tiba koko, begitu panggilan sayang saya terhadapnya karena saya masih memiliki darah Chinese, seolah menjelma seorang monster yang selalu berbohong, egois... dan banyak lagi, Mbak..

Mungkin dia capek.

Mungkin dia banyak masalah di kantor.

Mungkin kepalanya pening dan stres saking banyaknya tuntutan atasan.

Mungkin dia sedang membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyelesaikan proyek dan harus lebih sering berada di kantor...”

Saya membayangkan perasaanmu yang awalnya berusaha menafikkan perubahan yang terjadi, sebagaimana yang biasa dilakukan istri-istri pada umumnya.  Prasangka baik yang membuat kaum perempuan kadang menjadi kurang peka melihat perubahan sikap suami.

Prasangka baik memang harus ditumbuhkan dalam upaya menjadi istri salihah sebagai upaya untuk membahagiakan pasangan yang menginginkan istrinya lebih pengertian.  Prasangka baik agar kaum perempuan, tidak dicap pencemburu, dibandingkan dengan istri-istri rekan sekantor suami yang lebih santun, penurut, tidak rewel dan bawel.  Semua itu demi cinta, seluruh prasangka buruk dibuang jauh-jauh demi bakti seorang istri.

“Waktu itu saya selalu ditinggal, Mbak.  Koko sering tidak pulang.  Alasannya menemani pejabat keluar kota.  Selalu ada saja alasannya.  Tetapi saya berusaha untuk percaya dan memaklumi kesibukannya.  Toh, dia bekerja untuk kebaikan keluarga kami.

Perselingkuhan pertama, Mbak... Saya melihat dengan mata kepala sendiri.  Saat dengan perut yang mulai membesar karena hamil enam bulan, koko berboncengan dengan perempuan lain!  Saya tidak ingin cemburu.  Mungkin salah lihat.. mungkin bukan dia.  Mungkin teman itu teman sekantor dan mereka harus bergegas untuk urusan pekerjaan.  Tapi jika itu jawabannya, kenapa saat saya menelepon suami tidak diangkat-angkat?  Baru pada telepon ketiga bisa dihubungi.  Tanpa ragu koko mengatakan saat itu dia sedang berada dikantor.  Sementara orang-orang di kantor tegas-tegas menyatakan dia sedang diluar kantor.

Saya berharap itu hanya kebetulan.  Saya berusaha melupakan dan menganggapnya perkara kecil.  Tetapi diam-diam saya berdoa agar apa yang terjadi tak seburuk dugaan saya.  Saya berjuang agar tetap menerimanya dengan tangan terbuka dan penuh kasih setiap dia pulang kantor.  Dalam titik iman yang tidak seberapa saya punya saya pun meminta kepada-Nya, agar ketika saya tidak bisa menjaga, Allah mampu menguatkan iman suami dan menjauhkannya dari godaan perempuan lain.”

Setelah Ananda Lahir, berubahkah kehidupanmu?

“Ayunda lahir, anak emas kata dokter.  Sebab baru di usia pernikahan yang keempat, dia hadir dalam kehidupan kami.
Saya baru tahu sekitar delapan bulan lalu, saat itu kami sedang bertengkar, Mbak.  Entah apa masalahnya, saya lupa. Tapi setela pertengkaran dia bertanya, “Yang maaf .. Koko mau tanya. Apa Ayunda benar-benar anak Koko?”

Mungkin klise, tapi saya seperti disambar petir menerima kenyataan itu.  Menurut Koko sudah dari dulu hal itu ingin ditanyakan. Tetapi waktu saya hamil, dia takut saya berbuat nekat.  Makanya baru dilontarkan saat kami bertengkar.
Saya pandangi wajah Ayunda yang tertidur.  Ananda, buah cinta kami.. tampak polos, menggemaskan, dan membuat jatuh sayang.  Bagaimana bisa Koko meragukan anak kami? Dengan menangis saya ambil Al Qur’an dan bersumpah di atasnya, bahwa Ayunda benar darah dagingnya.”

Ah, apalagi ini?  Sindrom ketidaksiapan seorang Ayah kah? Namun kenapa baru dilontarkan ketika anak itu berusia lebih dari lima tahun?  Semua kecurigaan saat masih mengandung dan saat engkau temukan kebenaran melalui pesan-pesan mesra yang mengisi ponsel suami mu, malah semakin menjadi-jadi?  Meski dengan keberanianmu menanyakan kepada suami, justru malah tuduhan yang didapat atas ketidakrasionalan dan pencemburunya dirimu yang tersulut karena SMS, yang seharusnya tidak dipermasalahkan.  Kamu bahkan rela secara diam-diam membawa Ayunda test darah lengkap di rumah sakit.  Sungguh perjuangan seorang ibu yang sepenuhnya bisa saya pahami.

“Kondisi saya yang masih lemah karena belum lama melahirkan kala itu, kala itu semakin bertambah lemah.  Hati rasanya hancur mengetahui suami memanggil perempuan lain dengan sebutan sayang.  Koko bilang, perempuan itu hanya teman biasa.  Saya bertanya lagi, kalau memang teman biasa, kenapa harus pakai sayang?  Kami bertengkar dan lagi-lagi saya harus mengalah, mencoba melupakan kejadian itu.

Berangsur sikap sabar Koko menghilang, Mbak.  Berganti kekasaran.  Lambat laun sikapnya tidak lagi suami terhadap istri, melainkan pembantu.  Jika salah sedikit, lupa sedikit, salah meletakkan barang, berbagai caci maki meluncur dari lisannya yang dulu hanya mengeluarkan kalimat manis.  Kata-kata ‘bodoh, biadab, dan binatang’ bisa dengan mudah terlontar dari mulutnya.  Beberapa kali pernah dia berkata ‘untuk apa punya istri seperti ini jika tidak ada gunanya?’

Padahal persoalannya sering sepele.  Kesibukan mengasuh si kecil membuat saya lupa menyiapkan keperluannya dengan sempurna; pakaian, braso lencana, lupa memasang papan nama di bajunya... atau terlewat menyemir sepatunya.

Di rumah tidak ada yang membantu.  Jadi semua saya lakukan sendiri.  Kadang pada saat yang sama Ayunda yang sedang aktif-aktifnya juga meminta perhatian.  Suami tidak mengerti...
Bahkan seorang pembantu masih menerima penghargaan dengan dibayar jasanya.  Sedangkan saya? Makin lama saya merasa semakin tidak berdaya. Hancur.  Bisakah Mbak membayangkan perasaan saya?

Untuk menambah pemasukan, karena semakin sulit meminta uang dari suami, saya usaha bikin kue kecil-kecilan, Mbak.  Untungnya tidak seberapa, tapi suami selalu merasa saya banyak uang.  Akibatnya bila saya meminta uang untuk membayar SPP si kecil, atau ongkos dan belanja, suami cepat kesal dan marah.  Saejak awal saya memang tidak pernah diberikan amplop gaji suami.  Jadi selama ini kalau butuh, baru minta.  Sebenarnya malu, Mbak... menadahkan tangan terus tapi apa boleh buat?

Belakangan suami sering mengeluh tidak punya uang.  Anehnya kalau untuk keperluannya seperti jalan-jalan dan harus rental mobil dengan teman-temannya, suami tidak pernah kekurangan uang.  Tetai untuk saya dan ananda sulit sekali keluar dari kantungnya.  Kalaupun memberi seperti tidak ikhlas.

Bukan maksud saya mengeluh terhadap hal-hal yang kecil dan tidak bersyukur.  Tapi kadang iri terhadap ayah-ayah lain yang begitu terlibat terhadap anak-anaknya.  Sedang suami?  Susah sekali diminta mengantar si kecil ke sana kemari, tapi jika ada temannya yang menelepon dan minta ketemu, capek dan alasan lainnya langsung hilang.  Dia bisa dengan cepat berangkat entah kemana.  Kebetulan kami tinggal di rumah dinas yang dekat kantor hanya berjarak 3-4 meter, Mbak..

Seiring sikap kasar yang bertambah, suami juga semakin perhitungan tentang uang dan tuturmu?  Saya tidak tahu apa ini gejala yang sama yang mengikuti perubahan suami karena hatinya telah berpaling ke perempuan lain dan menyebabkan isi kantung pun ikut berubah tujuan?  dan Apakah dia lupa?  Bahwa doa-doa istri juga yang Allah dengar sehingga kehidupan rumah tangga membaik????

Maafkan tentang teori perubahan isi dompet suami, karena saya emosi.  Tidak bisa sepertimu, Lisa.  Yang terus menghidupkan prasangka baik, betapapun berkali-kalinya keraguan muncul, perasaan terluka yang semakin dalam.  Menyadari lebih banyak mengabiskan waktu malam sendiri, sebab suami hampir selalu pulang menjelang pagi.

Puncak Sakit Hati Itu?

Disuatu ketika... Ceritamu sewaktu masih pagi saat suami sedang berada dihalaman rumah bersama putri kecil kalian.  Pukul sembilan pagi, telingamu menangkap bunyi SMS masuk dari ponsel suami.
Entah keberanian dari mana yang mendorongmu meninggalkan kesibukan di dapur sejenak, mengambil Handphone serta membuka SMS yang masuk.  Pengirimnya seorang perempuan.  Tertulis disana kata-kata yang tidak mungkin terlupakan seumur hidupmu.  Kata-kata yang membuat jantungmu berhenti berdetak.

‘Mas, mas terima kasih atas apa yang telah terjadi di antara kita.  Aku benar-benar tidak bisa melupakannnya.  Begitu indah tidur bersamamu.  Kuberikan sesuatu yang berharga yang kumiliki.  Aku berharap bisa mengayuh biduk bahtera rumah tangga ini bersamamu berdua....’

ALLAH.. sulit saya membayangkan perasaanmu yang sedang memasak dan berusaha keras mengendalikan emosi agar terlihat tetap tenang.  Dengan tangan gemetar dan berkeringat dingin, saat berpura-pura menjadi suamimu dan membalas SMS sehingga semua kebenaran terbuka.  Segala yang tida baik semuanya keluar....

Lisa, saya memahami bagaimana perasaanmu saat suami tidak mau mengakui meski sent item ditemukan kalimat-kalimat mesra yang menunjukkan hubungan mereka yang sudah begitu intim.  Namun..

Dimanakah hati seorang lelaki saat menyaksikan
hancurnya kebahagiaan seorang perempuan?
Saat istrinya berlari ke dalam kamar, mencoba mengunci dan melukai diri sendiri...
memutuskan nadi agar kehidupan berhenti?


“Saya kira, saya sudah akan mati, Mbak.  Saya sudah tidak peduli.  Selama ini tidak ada tempat mengadu karena saya tidak pernah menceritakan masalah dengan suami kepada Papa, Mama, dan pihak keluarga saya.

Untunglah Koko masuk mendobrak kamar dan meminta maaf atas semua kekhilafannya.  Untuk pertama kali ia menyatakan penyesalannya.  Sebenarnya saya tidak ingin memaafkan, saya ingin mati saja waktu itu.  Mungkin iman saya memang rendah.  Sungguh, saya hanya ingin mati... tetapi suara Ayunda yang menangis dan memanggil-manggil ‘Mama’ membuat saya terenyuh dan sadar.
Ah, saat itu saya memang benar-benar putus asa, sehingga lupa terhadap Ayunda.  Makin tersia-sialah dia jika saya tidak ada.  Astaghfirulloh... melihat tangis gadis kecil itu, saya tahu.. saya harus kuat dan bertahan hidup untuknya.”

Saya bersyukur Allah menerangi hatimu di detik-detik kritis itu.. seputus-putus asanya seorang perempuan, setidaknya janganlah memutuskan kehendak Allah.  Tidak mencabut nikmat kehidupan luar biasa yang telah diberikan kepada hamba-NYA.

Kabar terakhir

Saya tahu perjuanganmu belum berakhir Lisa..  Permohonan maaf yang dulu diucapkan sama sekali tak berbekas.  Perempuan-perempuan lain masih terus hadir.  Tentang perzinahan suami yang terus berlangsung dan sulit diceritakan satu persatu sangat sulit untuk Lisa ungkapkan.  Perzinahan dengan pelacur di Bandung, lalu dengan mahasiswi yang KKN, dengan teman sekantor... Banyak!

Keinginan untuk berpisah bukan tidak ada.  Apalagi selama ini Lisa tidak bisa bercerita kecuali kepada ibu mertua, yang sudah semakin tua dan nasihatnya pun tidak digubris si anak.

“Saya ingi berpisah dari suami, Mbak.  Tapi saya memikirkan anak, juga memikirkan karir suami.  Maklum, Mbak, suami saat ini memang punya karir yang bagus.  Saya tidak ingin gara-gara permasalahan ini, citra dan karirnya di pemerintahan jadi hancur.

Saya tidak pernah ingin bertengkar di depan anak, tetapi suami saya selalu memarahi saya di depan anak.  Sampai pernah suatu kali anak kami protes, “Papa, kok mayah-mayah sama mama teyus, kan kasihan”.  Bahkan disaat sedih dan menangis saya tidak pernah tampakkan dihadapan anak, kecuali yang sekali itu.

Kadang saya berpikir untuk membalas semua perselingkuhan suami, Mbak.. Rasa sakit... entahlah, saya nggak bisa cerita.  Rasanya airmata ini ingin keluar tetapi sudah kering.  Setiap menit, setiap detik, saya sudah tidak sanggup untuk hidup bersamanya.  Enggak kuat, Mbak.  Saya harus menyembunyikan kesedihan, menyembunyikan tangis.  Semua ditutupi agar keluarga tidak tahu.
Saya tidak ingin mereka membenci Koko. Bukan, bukan semata karena Koko adalah suami saya.  Tetapi karena dia ayah dari Ayunda..

Perempuan..... betapa pun luka hati.  Masih memikirkan kepentingan laki-laki yang dicintai.  Meski laki-laki itu telah jauh dari memberikan kasih dan sayang.. serta perlindungan.  Kabar terakhir yang diketahui Lisa menderita andromium dan batu di kantung empedu.  Penyakit yang saat iman terasa lemah, kadang menggodanya untuk berharap cepat dipanggil Tuhan.

“Tentang penyakit ini, saya tidak ingin dioperasi karena saya tidak ingin sembuh.  Biarlah saya mati dengan penyakit ini lebih cepat dari pada bunuh diri.  Suami sendiri sepertinya tidak peduli dengan kesehatan saya, Mbak.  Dia tahu tapi tidak pernah menanyakan kondisi saya.  Hanya sekali komentar, ‘Perlu dioperasi enggak? Mahal dong! Usahalah bagaimana mengurusi diri sendiri, kami kaum laki-laki tau isteri sakit-sakitan, ibarat tanah merah belum kering pun pasti sudah cari pengganti dan kawin lagi!!’

Tapi tidak apa.  Itu justru bagus, menandakan ketidakperhatiannya kepada isteri.  Menambah harapan, agar Allah cepat mencabut nyawa.  Kalaupun saya harus mati saya hanya berharap agar Ayunda nantinya bisa mendoakan Ibunya.  Bisa dididik saudara ipar atau ibu mertua.
Saya selalu berdo’a, Mbak... agar anak saya kelak hidupnya tidak seburuk hidup Mamanya.  Saya ingin hidupnya layak disayang, dicintai, dihormati, serta dihargai oleh suami.  Saya ingin dia mendapat takdir yang baik yang tidak saya dapatkan...........

Makasih banget, Mbak.. sudah memberikan ruang buat saya curhat melepaskan segala sedih dihati.  Terima kasih ya, Mbak.. sudah mau menyayangi saya.  Saya berharap bisa mendapatkan banyak kasih sayang dari semua orang, termasuk cinta dan kasih sayang yang telah hilang darinya.”

Lisa, di mana pun kamu berada.. semoga Allah memberikan ketegaran, kekuatan, dan kesabaran serta kesembuhan dari penyakitmu.  Semoga pelangi itu Allah hadirkan dari arah yang lain dan menjadi penghibur di hari-hari mendung seperti ini. Amin Yaa Rabbal’alamin. (RED.A-N)

Sabtu, 25 Februari 2012

Karena Sabar itu tidak ada batasannya


Assalamualaikum, Wahai Wanita makhluk terindah ciptaan Allah SWT..
Sesungguhnya tiadalah berarti keilmuan yang tinggi tanpa kesabaran yang tinggi pula dalam mengarungi kehidupan ini.  Saya bukanlah seorang ustadzah atau wanita yang terlahir dalam lingkungan religi yang paling bagus.  Namun saya berusaha menuliskan pengalaman kejadian disekitar dengan menjadikan sebuah teks bacaan untuk khalayak ramai khususnya para perempuan.  Mungkin saja saat ini sedang bersedih atau kalaupun sedang berbahagia, semoga kisah yang dipaparkan bisa menjadi sebuah renungan bagaimana mempertahankan kebahagiaan dalam hati.

Mari kita simak pada tulisan pertama..

Sebuah Pertemuan
Jika ada seseorang perempuan di dunia ini yang bisa menjamin dirinya tidak akan pernah bertemu dengan laki-laki (begitu sebaliknya) adalah suatu hal yang sangat keliru.  Meski pernah sakit hati sebelumnya dan telah berjanji akan membenci laki-laki manapun, tetap saja cobaan itu kan terus datang.  Ntah, apa yang salah dari laki-laki tapi tidak dengan wanita satu ini.  Sebut saja dia Fha.  Wanita tamatan S1 Hukum itu pernah tak menyadari kalau ternyata dirinya telah ternodai.  Mungkin saat itu ia terlalu yakin akan komitmen yang pernah di sepakati bersama kekasihnya tanpa mengingkari pula adanya cinta yang sangat besar mendekap diantara mereka.  Hingga pada akhirnya lepas lah tameng perlindungan yang selama ini ia jaga ditangan lelaki yang sangat dicintainya itu. 
Lepas bukan berarti bahagia justru berganti bencana.  Bayangkan bagaimana perasaan Fha yang selama ini rela melepaskan kekasihnya itu belajar diluar negeri dalam kurun waktu yang dirasa cukup lama kini telah berubah.  Munculnya konflik dan ancaman akan dibeberkan semua kejelekan Fha selama berpacaran dan menyebarkan foto-foto tak pantas atas kekecewaan penghianatan cinta sebagai tuduhan untuk Fha.  Masyallah, 3 tahun cukuplah menyiksa batin dan pikirannya, kenapa harus ditambah lagi dengan cobaan ini?
“Akankah lelaki ini benar-benar menghargai kesetiaanku?” Fha membathin.  Serahkan semuanya pada Allah.  Begitu kata kakak dan seluruh keluarga menyuport Fha.  Cincin pertunangan masih erat melingkar dijari manis Fha dan digenggam erat olehnya.

Bicarakan Semuanya, Aku ikhlas..

“Pekerjaan yang didapat ini sesungguhnya memang karunia dari Allah SWT untuk Fha, mbak.  Tapi itupun tak luput dari bantuannya Mas Bayu juga..”. Fha mengutarakan kegundahannya kepada kakak sulungnya.  Sebelum ditinggal kekasihnya studi diluar negeri, memang Fha mendapatkan pekerjaan menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil berkat bantuan dari Bayu (Nama kekasih Fha).
“Tapi kata-katanya itu sungguh keterlaluan, Fha!  Mbak gak nyangka segitu teganya dia ancam kamu! Apa gak bisa dibicarakan baik-baik dengan cara kekeluargaan??” Mendengar perkataan itu Fha bungkam.  Ia memahami watak kakaknya ketika marah, tapi ia pula memahami ini hanyalah sebuah kesalahpahaman.  Mas Bayu salah paham tentang hubungannya dengan Aa Hanif.  Sebagai mantan  pacar, Aa Hanif memang sangat baik dan masih menjaga hubungan baik dengan keluarga Fha meskipun hubungan itu telah lama berakhir.  Memang Aa Hanif terkadang masih sering menanyakan hati yang dimilik Fha terhadapnya, tapi tetap saja bayangan Mas Bayu melekat diingatan. 

“Gak, Aa.. Fha tetap mensyukuri kekasih yang telah Allah beri untuk Fha dengan menerima segala kekurangan dan kelebihan dari Mas Bayu.  Fha mencintai Mas Bayu.”

“Tapi bagaimana dengan fitnah yang telah ia tudingkan kepadamu?  Asal kamu tau, Aa siap menerima ade kembali jika memang dia tega melepaskanmu, de.”

“Tenang dulu Aa.. Doakan saja semoga ini cepat selesai dan tidak menjadi masalah yang pelik untuk Fha hadapi”.  Fha begitu tegar mempertahankan kesetiaannya.
Sebuah SMS ia layangkan ke nomor ponsel milik Bayu.

Assalamualaikum, Mas Bayu tercinta..
Sungguh malam-malam yang aku lalui tidaklah sempurna tanpa mengetahui bagaimana kabarmu disana.  Fha sangat mencintai Mas Bayu, berharap Mas jangan pernah tinggalin Fha.  Kalau ada masalah yang kurang berkenan, tolong bicarakan semuanya sama Fha ya, Mas.  Insyallah Fha ikhlas.. Cepat selesaikan Studinya, mas.  Fha disini tetap setia menunggu kedatangan Mas Bayu.  Peluk Cium kangen selalu untuk Mas.  Wassalam.



Jika Cerita itu Benar, Mungkin Hanyalah Sebuah Kekhilafan dan Fha Tetap Ikhlas Memaafkan Mas Bayu..

Sesungguhnya permasalahan ini telah lama disadari walaupun Mas Bayu menutup rapat, tidak pernah membahas persoalan itu kepada Fha.  Tak bisa pula ia menyalahkan wanita yang telah terlanjur hadir dihati kekasih yang sangat dicintainya.  Jika cerita itu benar, biarlah.  Berarti memang sudah menjadi kekhilafan Mas Bayu saat merasa jauh dari dirinya dan butuh tempat berbagi.  Bagaimana mungkin kuatnya seorang Fha bertahun-tahun mempertahankan keutuhan hubungan pertunangannya dengan Bayu, saban hari diacuhkan baik dari SMS, Telpon, Maupun Email. 
“Astaghfirullohaladzhim, Yaa Allah.. Cobaan apalagi ini? Kuatkan Fha , Yaa Allah.. Tunjukkan yang terbaik”.  Fha menitikkan air mata kesedihannya.  Sekali lagi ia pasrah terhadap keputusan Allah.  Berbulan-bulan Fha bersabar, Tahajud dan Istikharah mengharap Ilahi menjawab semua permohonannya.  Seperti mendapat sebuah pencerah, Fha akhirnya bisa mencoba menutup auratnya dengan memakai jilbab. 
Subhanallah, Sungguh wanita ini memang Cantik!

Waktu pun terus bergulir dan dijalani Fha dengan penuh keikhlasan.  Mungkin Kuasa Allah yang telah membukakan mata hati dan pikiran Mas Bayu yang ternyata selama ini masih memperhatikan perkembangan kehidupannya.  Berkat kesabaran dan keyakinan akan berubahnya sikap Mas Bayu kini telah membuahkan hasil.  Mas Bayu telah meminta maaf atas kesalahpahamannya dan bertekad akan menunaikan janjinya untuk menikahi gadis yang sejak dulu ia cintai, yaitu Fha.  Saat Mas Bayu pulang ke tanah air meski hanya untuk suatu penelitian studinya, waktu yang singkat itu tak dibuang percuma.  Lalu dilamarlah gadis yang bernama Raudhatul Fhauziah itu dalam pertalian suci untuk dijadikan sebagai isteri, pendamping hidupnya.

Subhanallah, begitu tegarnya wanita seperti Fha.  Lalu munculah pertanyaan seperti, apa kesalahan pertama itu selamanya menuai hukuman berkepanjangan seperti yang demikian terjadi?
Jawabannya adalah sepanjang kehidupanmu kesalahan itu akan terus ada dan semuanya dapat diatasi dengan keimananmu yang berbuah kesabaran penuh rasa ikhlas.  Setiap manusia pasti ada salah dan khilaf.  Namun yang perlu digaris bawahi adalah mensyukuri apa yang telah dimiliki dan menjaganya dengan sebaik-baik kehormatan adalah hal yang patut dijadikan perenungan.  
Tidak mudah bagi seorang wanita menyerahkan seluruh yang ia miliki tanpa ada komitmen pada mulanya.  Tapi sebaiknya pula jangan dijadikan sebuah panutan tentang hubungan pra nikah meskipun telah berkomitmen seperti adanya pertunangan.  Mendengarkan, melihat, dan merasakan itu memang perlu, akan tetapi patutlah kita dapat menjaga hati dan lisan kita bagaimana semestinya bertingkah yang menyenangkan bagi pasangan kita. 
Untuk mereka yang sudah terlanjur larut dalam kekhilafan.  Bertaubatlah.  Allah tak pernah menutup pintu maaf apabila bersungguh-sungguh kembali kejalan yang benar.  Sesungguhnya wanita itu mulia dan baik hatinya, sama dengan laki-laki yang penuh dengan kasih sayang.  Alangkah baiknya setiap kesalahan yang pernah terjadi diungkapkan dan dibicarakan baik-baik kepada pasangan kita.  Dikehidupan yang tidak sempurna ini cobalah dijalani dengan cara yang sempurna.  Karena kita tidak pernah mengetahui bagaimana kehidupan esok,  Sudahkah kita meminta maaf atas kekhilafan kecil maupun besar kepada pasangan kita?  Wallahualam.

-Erliza furi-
Karena Sabar itu tidak ada batasannya.

Sabtu, 26 November 2011


Tolong lah cinta..

Saat terdesak aku sangat mengharapkan mu membelai hening jantung hatiku.  Setidaknya kamu harus tahu mengapa aku pasrah berkata seperti ini.  Bijaknya tutur kehidupan kini buat terjebak.  Binasa!  Itu lah yang selalu diandalkan untuk resiko terdepan dari sebuah kelalaian.

Lima puluh hari kebersamaan ini tak mengubah apapun bagiku.  Tak sanggup berharap akan berkembang lebih, tak menginginkan pula menyusut hilang kendali.  Asal kau tahu cinta, tidak mudah membiarkan mu bersaksi dalam rentang waktu yang sulit tuk dijamah.  Ini sebuah keputus asaan!

Aku pernah mengizinkan mu menapaki jalanan terjal tanpa tautan jemari ini.  Lalu apa yang terjadi cinta? Bantahan mu tak bermekaran harumnya seperti kasturi .. aku hanya mampu tersenyum.  Seperti inilah keadaan nya , tak sanggup boleh lah berlalu.  Anggukkanlah kepalamu untuk menyetujui pendapat ku ini.

Mengertilah cinta..

Sewaktu mengingat mu hadir mengisi relung kalbu, tiba-tiba saja rasa syukur ini terucap syahdu.  Setidaknya kamu harus tahu mengapa aku pasrah berkata seperti ini.  Aura ketenangan mengalir , menghampiri, membentuk riak-riak kecil bergejolak indah di dada.  Tetaplah bersama!  Suasana ini lah yang nyaris membunuh keluh kesah ku.
Detik demi detik terlampaui masih tak mengubah apapun bagiku.  Tak berharap satu pujian bahkan caci makian datang menghampiri tanpa alasan yang pasti.  Jika kamu mengerti, kesederhanaan kita ialah pondasi penyatuan satu asa.  Ini sebuah tantangan!

Cukup hanya kamu cintaku..
Di Tahun baru Islam 1 Muharam 1433 Hijriah ini
Ijinkan aku berharap, untuk dapat selalu tersenyum bersamamu disaat sedih maupun suka hingga waktu tak berkenan lagi menjawab.

Jumat, 04 November 2011

Tari Kontemporer dan Seniman Kita


Tari kontemporer merupakan salah satu gejala dalam kehidupan modern kita dewasa ini. Keberadaannya dikalangan seniman sudah tidak asing lagi, tapi dari kalangan awam tari dari golongan ini masih kurang di kenali. Kebanyakan orang tidak mengerti, nilai-nilai dan kwalitas yang terkandung. Apakah kiranya yang dapat diharapkan dari tari yang menamai dirinya tari kontemporer itu, yang ditangkap hanya keanehannya saja oleh karena dilatarbelakangi oleh ketidaklazimannnya itu. Lewat usaha pengadaan even-even seperti Pasar tari Kontemporer, Indonesia Dance Festival, Festival Nasional Tari Nusantara dan kegiatan apa lagi yang akan muncul nanti nya itulah yang akan menjembatani pemahaman dalam masyarakat.  Dengan begitu, karya yang disajikan dapat disimak, dinilai dan dihayati oleh banyak orang.  Kemudian diperbincangkan, dikenang, dan kemudian orang mengharapkan untuk melihat karya-karya tari kontemporer spektakuler lain nya.

 
Tari kontemporer atau tari masa kini merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh seniman tari sebagai perkembangan lebih lanjut dari gerakan yang dilancarkan oleh seni modern, yang cendrung untuk menentang tradisi. Usaha yang keras untuk menemukan bentuk-bentuk baru, azas-azas komposisi baru dan bahkan sumber-sumber gerak selalu ada di sana di pusat medan kreativitas di mana sang seniman bekerja untuk mencari kemerdekaannya.

Seni tari kontemporer secara umum juga cendrung untuk menanggapi masalah aktual yang terjadi dalam masyarakat masing-masing atau masalah apa saja yang dikenali sebagai masalah global (hot issue). Namun, sang seniman juga hidup dalam lingkungan tradisi di mana tradisi itu berada, tradisi itu dirasakan sebagai sesuatu yang harus di hadapi, bahkan dilawan, tetapi adakalanya juga samar-samar dikenali sehingga menjadi tantangan untuk meraihnya. Melihat situasi seperti ini maka seniman itu didesak untuk bersikap terhadap tradisi melalui suatu dialog yang mempunyai arti, baik pada tataran konsep maupun pada tehnik. Kecendrungan dalam mencari penemuan-penemuan baru, mencari sumber-sumber gerak yang baru, tehnik-tehnik yang baru. Agaknya hal seperti inilah yang digemari oleh penata tari muda sekarang lalu di tampung oleh suatu wadah yang sering dinamakan festival. Kebebasan seperti ini dijadikan sebagai wadah dan lahan yang luas menuangkan ide, gagasan, sehingga ia mampu dan siap untuk menyajikan yang sifatnya kebaru-baruan. Hal yang berbau kebaru-baruan tentu banyak mempertimbangan dari segala aspek agar menjadi sebuah pendalaman konsep yang berarti dari sebuah pikiran yang akan dilahirkan menjadi sebuah karya.


Perkembangan tari kontemporer beserta aspek-aspek pendukungnya telah nampak dalam wujud yang nyata, sebagai indikasi dari festival tari yang diadakan telah melahirkan penata tari muda dalam menyongsong masa depan tari di Indonesia. Tinggal sekarang pemantapan dan bimbingan serta motivasi diri yang paling menentukan, semua ini ditandai dengan usaha-usaha seperti hasil kreativitas.  Salah satu hal yang dapat memotivasi diri para seniman muda adalah dukungan dari pihak pemerintah atau suatu intitusi yang peduli akan pergerakan tumbuh kembang nya seni tari.  Setidak nya bisa merangkul dan menganjurkan agar  seniman seni di Indonesia lebih banyak mengundang kurator internasional agar seni kontemporer Indonesia bisa lebih dikenal secara global.


Hal yang lebih prinsipil yaitu bagaimana usaha kita tidak menjadi seniman pesanan, karena dengan menjadi seniman pesanan akan mengakibatkan lamban dalam perkembangan.  Lalu jalan yang terbaik dalam mengukir sebuah prestasi seni adalah apabila diri seniman itu dikomandoi oleh hati dan perasaannya sendiri utnuk berbuat atau berkarya. 

Intinya diri seniman itu tidak selalu dikomandoi oleh sebuah even yang besar.
Buat even sendiri aja!
Itu lebih baik untuk memicu kreativitas berkwalitas.

Terima Kasih,

(Ica_Furry).

Ulasan kecil tentang regenerasi tari yang malang melintang

"Masa muda adalah masa yang penuh semangat untuk berbuat, masa muda sarat dengan daya imajinasi, daya kreasi dan usaha pantang menyerah. Akan tetapi dalam seni semangat saja belumlah cukup. Kemampuan tehnik, kepekaan rasa, pengetahuan, kecerdasan serta pengalaman ikut menentukan.
Hendaknya semangat muda itu di sadari dan di bina, karena semangat yang menggebu itu jikalau tidak disalurkan akan mudah putus dan susah untuk bangkit kembali, padahal para muda itu menjadi tumpuan masa depan yang bahasa slogannya adalah generasi penerus. Namun tak berarti juga semua yang diterima dari yang tua harus diteruskan atau sebaliknya semua yang lama harus diganti. Sebab dalam kehidupan selalu terdiri dari tiga generasi; yang sudah senja, yang sedang berkuasa dan yang akan menggantikan. Alangkah bijaknya jika nilai lama yang masih relevan diteruskan. Tapi sepantasnya pula generasi muda diberi kesempatan untuk menemukan jati diri dan mengukir prestasi sesuai dengan gelora jiwa masa kini."
Paparan dari paragraf diatas memang benar adanya.  Pernah ketika saya mengalami masa-masa seperti itu, ada beberapa keganjalan yang menekan kemajuan kegiatan berkesenian yang sedang saya dan teman-teman geluti.  Cukup menorehkan sedikit rasa kecewa dan menumbuhkan keraguan untuk kembali bersemangat menjalankan nya.  Ketika mengetahui jawatan terkait tak mendukung terobosan-terobosan yang kami lakukan, dengan menyebarkan isu-isu politik untuk menjatuhkan, maka yang bisa saya lakukan saat itu hanyalah menguatkan rasa semangat teman-teman atas keputus asaan yang kian tercipta.

Tidak pernah menyangka bahwasanya seni yang kami tawarkan (dalam hal ini ialah seni tari) secara tidak langsung hanya dijadikan sebuah trik alih kuasa, alih kiblat, dan alih dana segar.  Mengapa dikatakan demikian?  Jawabnya sangat gampang, karena kami masih bodoh.  Dimana kesempatan berdikari itu bisa kami dapatkan? kalau pun di dapat, resiko terbesar adalah kami harus sadar dan siap dikatakan sebagai kelinci percobaan.

Menggaris bawahi kalimat diatas yang berbunyi, Sebab dalam kehidupan selalu terdiri dari tiga generasi; yang sudah senja, yang sedang berkuasa dan yang akan menggantikan. Alangkah bijaknya jika nilai lama yang masih relevan diteruskan.  Sejujurnya tak pernah sedikitpun saya memiliki niatan untuk merusak yang namanya tradisi warisan.  Hanya mencoba untuk menjadi lebih kreatif menanggapi masalah sosio-kultural lalu menuangkan nya ke dalam bentuk tari.  Esensi yang dipakai sebagai nafas pedoman bagi karya yang diciptakan tetap saja berasal dari tradisi.  Mungkin hanya bentuk pengemasan nya saja yang tidak biasa sehingga dipandang “beda” dan aneh dalam lingkup tempat kami hidup.  Dengan selalu tampil beda itulah tujuan kami sebenar nya agar ada kesempatan regenerasi tari baru hadir dalam lingkup kehidupan kami. Ironis nya, tidak mudah bagi mereka yang sudah senja, yang sedang berkuasa, menerima bahwa yang menggantikan kini telah ada.  Inilah sebuah PR yang harus kami kerjakan entah sampai kapan bisa terselesaikan.

Seorang seniman besar pernah berkata kepada saya ; “Ketika kesenian itu dirusak, positif nya adalah pengetahuan tentang tradisi asli suatu daerah akan semakin dicari dan terus digali oleh banyak orang. Jadi jangan pernah takut ‘merusak’, karena itu pun sudah pasti ada etika dan pertanggungjawaban nya.  Yakin bahwa semua kesabaran dan keuletan itu bisa menghasilkan karya yang luar biasa berbeda.”

Sangat menarik!

Masalah ini selalu menjadi kajian bagi saya sebagai seorang koreografer, pemerhati seni dan penulis selama kurang lebih 5 tahun belakangan ini.  Saya memang tidak berbakat untuk banyak bicara, akan tetapi saya lebih sering berusaha memaparkan nya lewat tulisan-tulisan agar pembaca dapat menikmati sendiri bagaimana susah senang nya bergelut di layar seni pertunjukan terutama tari.  Membawa perubahan ke daerah tempat kita berasal memang gampang-gampang susah.  Semua butuh waktu.  Walau terasa kecil yang dilakukan, mungkin saja bisa jadi sangat besar pengaruh nya dikemudian hari.

Ada beberapa tulisan yang nanti nya akan hadir mengisi di pikiran-pikiran anda, semoga saja dapat menggelitik untuk meng_kritisi pemikiran saya.

Terima Kasih.
(Ica_Furry)

Kamis, 20 Oktober 2011

Asal Mula Bangka


Sejarah mengungkapkan bahwa Pulau Bangka pernah dihuni oleh orang-orang Hindu dalam abad ke-7. pada masa Kerajaan Sriwijaya pula Bangka termasuk pula sebagai daerah yang takluk dari kerajaan yang besar itu. Demikian pula kerajaan Majapahit dan Mataram tercatat pula sebagai kerajaan-kerajaan yang pernah menguasai Pulau Bangka.
Namun pada masa itu pulau Bangka baru sedikit mendapat perhatian, meskipun letaknya yang strategis ditengah-tengah alur lalu lintas setelah orang-orang daratan Asia maupun Eropa berlomba-lomba ke Indonesia dengan ditemukannya rempah-rempah. Kurangnya perhatian dari para bajak laut yang menimbulkan penderitaan bagi penduduknya.
Untuk mengatasi kekacauan yang terjadi, Sultan Johor dengan sekutunya Sutan dan Raja Alam Harimau Garang. Setelah melakukan tugasnya dengan baik, juga mengembangkan Agama Islam ditempat kedudukannya masing-masing Kotawaringin dan Bangkakota. Namun sayangnya hal ini tidak berlangsung lama, kemudian kembali pulau Bangka menjadi sarang kaum bajak laut.
Karena merasa turut dirugikan dengan dirampasnya kapal-kapalmya maka Sultan Banten mengirimkan Bupati Nusantara untuk membasmi bajak-bajak laut tersebut, kemudian Bupati Nusantara untuk beberapa lama memerintah Bangka dengan gelar Raja Muda. Diceritakan pula bahwa Panglima Banten, Ratu Bagus yang terpaksa mundur dari pertikaiannya dengan Sultan Palembang, menuju ke Bangka Kota dan wafat disana.
Setelah Bupati Nusantara wafat, kekuasaan jatuh ketangan putri tunggalnya dan karena putrinya ini dikawinkan dengan Sultan Palembang, Abdurrachman (1659-1707), dengan sendirinya pulau Bangka menjadi bagian dari Kesultanan Palembang.
Pada tahun 1707 Sultan Abdurrachman wafat, dan ia digantikan oleh putranya Ratu Muhammad Mansyur (1707-1715).
Namun Ratu Anum Kamaruddin adik kandung Ratu Muhammad Mansyur kemudian mengangkat dirinya sebagai Sultan Palembang, menggantikan abangnya (1715-1724), walaupun abangnya telah berpesan sebelum wafat, supaya putranya Mahmud Badaruddin menyingkir ke Johor dan Siantan, sekalipun secara formal sudah diangkat juga rakyat menjadi Sultan Palembang.
Tetapi pada tahun 1724 Mahmud Badaruddin dengan bantuan Angkatan Perang Sultan Johor merebut kembali Palembang dari pamannya.
Kekuasaan atas pulau Bangka selanjutnya diserahkan oleh Mahmud Badaruddin kepada Wan Akup, yang sejak beberapa waktu telah pindah dari Siantan ke Bangka bersama dua orang adiknya Wan Abduljabar dan Wan Serin.
Kemudian atas dasar Konversi London tanggal 13 Agustus 1814, Belanda menerima kembali dari Inggris daerah-daerah yang pernah didudukinya ditahun 1803 termasuk beberapa daerah Kesultanan Palembang. Serah terima dilakukan antara M.H. Court (Inggris) dengan K. Heynes (Belanda) di Mentok pada tanggal 10 Desember 1816.
Kecurangan-kecurangan, pemerasan-pemerasan, pengurasan dan pengangkutan hasil Timah yang tidak menentu, yang dilakukan oleh VOC dan Ingris (EIC) akhirnya sampailah pada situasi hilangnya kesabaran rakyat. Apalagi setelah kembali kepada Belanda. Yang mulai menggali timah secara besar-besaran dan ang sama sekali tidak memikirkan nasib pribumi. Perang gerilya yang dilakukan di Musi Rawas untuk melawan Belanda, juga telah membangkitkan semangat perlawanan rakyat di Pulau Bangka dan Belitung.
Maka pecahlah pemberontakan-pemberontakan, selama bertahun-tahun rakyat Bangka mengadakan perlawanan, berjuang mati-matian utnuk mengusir Belanda dari daerahnya, dibawah pimpinan Depati Merawang, Depati Amir, Depati Bahrin, dan Tikal serta lainnya.
Kemudian istri Mahmud Badaruddin yang karena tidak serasi berdiam di Palembang diperkenankan suaminya menetap di Bangka dimana disebutkan bahwa istri Sultan Mahmud ini adalah anak dari Wan Abduljabar. Sejarah menyebutkan bahwa Wan Abduljabar adalah putra kedua dari abdulhayat seorang kepercayaan Sultan Johor untuk pemerintahan di Siantan, Abdulhayat ini semula adalah seorang pejabat tinggi kerajaan Cina bernama Lim Tau Kian, yang karena berselisih paham lalu melarikan diri ke Johor dan mendapat perlindungan dari Sultan. Ia kemudian masuk agama Islam dengan sebutan Abdulhayat, karena keahliannya diangkat oleh Sultan Johor menjadi kepala Negeri di Siantan.
Sekitar tahun 1709 diketemukan timah, yang mula-mula digali di Sungai Olin di Kecamatan Toboali oleh orang-orang johor atas pengalaman mereka di semenanjung Malaka. Dengan diketemukannya timah ini, mulailah pulau Bangka disinggahi oleh segala macam perahu dari Asia maupun Eropa. Perusahaan-perusahaan penggalian timah pun semakin maju, sehingga Sultan Palembang mengirimkan orang-orangnya ke Semenanjung Negeri Cina untuk mencari tenaga-tenaga ahli yang kian terasa sangat diperlukan.
Pada tahun 1717 mulai diadakan perhubungan dagang dengan VOC untuk penjualan timah. Dengan bantuan kompeni ini, Sultan Palembang berusa membasmi bajak-bajak laut dan penyelundupan-penyelundupan timah. Pada tahun 1755 pemerintah Belanda mengirimkan misi dagangnya ke Palembang yang dipimpin oleh Van Haak, yang bermaksud untuk meninjau hasil timaha dan lada di Bangka. Pada sekitar tahun 1722 VOC mengadakan perjanjian yang mengikat dengan Sultan Ratu Anum Kamaruddin untuk membeli timah monopoli, dimana menurut laporan Van Haak perjanjian antara pemerintah Belanda dan Sultan Palembang berisi :
·       Sultan hanya menjual timahnya kepada kompeni
·       Kompeni dapat membeli timah sejumlah yang diperlukan.
Sebagai akibat perjanjian inilah kemudian banyak timah hasil pulau Bangka dijual dengan cara diselundupkan.
Selanjutnya tahun 1803 pemerintah Belanda mengirimkan misi lagi yang dipimpin oleh V.D. Bogarts dan Kapten Lombart, yang bermaksud mengadakan penyelidikan dengan seksama tentang timah di Bangka.
Perjanjian Tuntang pada tanggal 18 September 1811 telah membawa nasib lain bagi pulau Bangka. Pada tanggal itu ditandatanganilah akta penyerahan dari pihak Belanda kepada pihak Inggris, dimana pulau Jawa dan daerah-daerah takluknya, Timor, Makasar, dan Palembang berikut daerah-daerah taklluknya menjadi jajahan Inggris.
Raffles mengirimkan utusannya ke Palembang untuk mengambil alih Loji Belanda di Sungai Aur, tetapi mereka ditolak oleh Sultan Mahmud Badaruddin II, karena kekuasaan Belanda di Palembang sebelum kapitulasi Tuntang sudah tidak ada lagi. Raffless merasa tidak senang dengan penolakan Sultan dan tetap menuntut agar Loji Sungai Aur diserahkan, juga menuntut agar Sultan menyerahkan tambang-tambang timah di pulau Bangka dan Belitung.
Pada tanggal 20 Maret 1812 Raffles mengirimkan Ekspedisi ke Palembang yang dipimpin oleh Jendral Mayor Roobert Rollo Gillespie. Namun Gillespie gagal bertemu dengan Sultan lalu Inggris mulai melaksanakan politik "Devide et Impera"nya. Gillespie mengangkat Pangeran Adipati sebagai Sultan Palembang denga gelar Sultan Ahmad Najamuddin II (tahun 1812).
Sebagai pengakuan Inggris terhadap Sultan Ahmad Najamuddin II dibuatlah perjanjian tersendiri agar pulau Bangka dan Belitung diserahkan kepada Inggris. Dalam perjalanan pulang ke Betawi lewat Mentok oleh Gillespie, kedua pulau itu diresmikan menjadi jajahan Inggris dengan diberi nama "Duke of Island" (20 Mei 1812).